Kasih Ibu Tak Pernah Pudar

Apakah kalian pernah mendengar lagu ini?

Lagu yang selalu dinyanyikan ibunda kita.

Lagu yang memang diciptakan untuk anak-anak.

Lagu abadi sepanjang masa.

Coba mari kita senandungkan lagu tersebut bersama-sama.

Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Lagu terkenal dan penuh makna dengan curahan hati dan kasih sayang ibu sepanjang masa, sepanjang tahun, sepanjang hari. Tidak pernah pudar dilekang oleh waktu. Kasih Ibu ini selalu diberikan kepada anandanya tanpa pernah meminta ataupun membalas dari sang ananda. Kasih Ibu layaknya Sinar mentari di sepanjang hari tanpa henti menyinari bumi. Begitulah kasih sayang seorang Ibu tak pernah pudar.

Ketika menulis ini, menulis dengan tema “Ibu Profesional Nurturing Family” mengacu pada lagu ini. Ya, Ibu. Mengingat jasa seorang Ibu, mengingat juga Ibunda saya sendiri. Sosok Ibunda mengajarkan saya kembali bahwa Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Perjuangan Ibu mengandung selama 9 bulan membawa kehidupan baru, belum lagi teringat akan perjuangan proses melahirkan. Begitu dekatnya dengan sang Illahi, mengorbankan dari jiwa ruh sang ibu sendiri. Proses yang begitu takjub dan indah yang tidak akan pernah bisa dilupakan dan kemudian dilanjutkan dengan menyusui. Proses ini membuat Ibu tidak dapat mengurus dirinya sendiri, karena tiap menit, tiap jam bayi menangis karena lapar, haus, dan mengantuk mengharuskan Ibu senantiasa untuk menggendong dan meninabobokan bayi kembali. Belum lagi proses menyusui, momen akan kedekatan intim dengan bayi, mencium bau harum bayi akan ASI, kemudian adaptasi siklus tidur dengan jam-jam malam menyusui, luka dan perih akan menyusui. Sungguh perjuangan Ibu itu tak pernah akan ada obat gantinya. Ibu, bagi saya memberikan saya kesempatan tiada duanya untuk terus melakukan yang terbaik dan berbakti kepadanya.

Bagaimana caranya menjadi Ibu seutuhnya seperti Ibunda saya dan berhasil menyimpan di dalam memory anak sehingga semua ladang ilmu yang kita berikan tak terputus? Itu misi awal saya belajar berperan menjadi seorang Ibu yang bersungguh-sungguh didalamnya. Apakah hal ini mudah? In Your Dream, itu kata teman saya. ITU TIDAKLAH MUDAH. Ternyata saat saya mulai berproses menjalaninya sungguh banyak tantangan yang hampir membuat saya terhenti. Saya pun menyadari bahwa untuk menjadi Ibu yan hebat hingga menghasilkan anak yang hebat, sayapun harus melebur dan menyelam lebih dalam lagi sehingga nantinya siap menerima kondisi tantangan untuk menjadi Ibu Profesional yang seutuhnya.

Saya pun bertemu Komunitas Ibu Profesional yang memberikan saya kuncinya. Kunci yang akan membuka jalan saya untuk menjadi Ibu kebanggaan keluarga. Ibu yang disayang oleh anak dan suami, Ibu yang dapat membuat anak-anak dan suamipun bangga akan KITA. Saya pun teringat kembali dalam suatu kelas Matrikulasi. Sesosok Ibu yang mengalami disorientasi informasi akan peranan Ibu yang sesungguhnya. Dari sana membuka insight baru yang awal penuh dengan tangisan menerima diri saya seutuhnya, belajar cinta diri sendiri, dan bersyukur dengan segala potrensi yang kita punya, sampai akhirnya rona bahagia terpancar dalam diri saya. Saya mampu menyusun visi dan misi keluarga, yang membuat suami bangga dan anak-anak pun bahagia ketika saya membersamai mereka.

Ibu Profesional, membuat saya mengambil langkah maju tanpa henti untuk beristirahat. Teringat Value Ibu Profesional salah satunya yaitu Never stopped running, THE MISSION ALIVE. Saya menyadari bahwa saya sebagai seorang Ibu dan Istri ingin terus belajar, meraih misi dengan suka cita yang dapat sejalan dengan passion saya. Saya berani mengambil keputusan terpenting dalam hidup saya bahwa ini adalah untuk kemaslahatan keluarga dan lingkungan di sekitar saya. But wait….
tunggu sebentar… Saya pun berpikir ketika menerima banyak informasi baru tergabung saat itu, saya pun layaknya karang diterjang ombak tanpa henti, Jika terus seperti itu, sayapun kan hancur lebur sebelum saya memilah-milah tsunami informasi. Coba ganti peran. Coba menjadi Masinis Kereta Api tanpa henti yang hanya berhenti ketika sampai tujuan, tidakkah kita seharusnya merasakan indahnya menikmati pemandangan dan suasananya dalam menjalani suatu prosesnya. Betul saya terus maju, tapi adakalanya berjalan pelan lambat maju ke depan dengan pasti supaya dapat berjalan beriringan bersama keluarga yang kita cintai, sehingga apa yang ingin kita capai pun akan dapat dilakukan selebrasi kegembiraannya bersama-sama.

Layaknya perjalanan dalam kereta ini adalah sebuah proses menyelesaikan misi, pasti akan ada banyak kisah yang ditemui ketika kereta dapat terhenti di tiap stasiun. Just feeling it, diam dan tenang untuk resapi semua perjalanan tersebut. Tajamkan indera dan kepekaan untuk mendengar semua cerita ilmu yang bersumber untuk memulai Adab menuntut ILMU yang baik, tajamkan indera dan kepekaan untuk melihat sukacita bagaimana diri ini menjalani proses dan solusi untuk menghadapi tantangan di depan dalam keluargaku, tajamkanlah indera dan kepekaan untuk membiasakan diri berkata hal-hal yang produktif demi keberhasilan mencapai proses misi kehidupan. Yang pasti sayapun tahu dan menyadari bahwa setiap langkah perjalanan itu dibuat akan memiliki arti dan makna dalam kehidupan saya sendiri.

Dari belajar menikmati prosesnya, Ibu profesional pun memberikan arti bagi saya bahwa pembelajaran Ibupun sama tak lekang oleh waktu, tak pernah pudar, layaknya kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Teringat hal ini pun membuat saya berpikir bahwa anak yang diberikan oleh Illahi merupakan suatu amanah juga memilki fitrahnya dan misinya dalam peran kehidupan ini. Teringat kembali lagi suatu prosa Kahlil Gibran,

Anakmu itu bukan milikmu,

Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.

Lewat kau mereka lahir, tapi bukan dari engkau.

Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.

Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.

Kasih sayang ibu tak pernah ada batasnya, tapi jangan pernah kita memaksakan keinginan kepada anak demi tercapainya proses misi keluarga. Dari Ibu Profesional pun saya belajar bahwa fitrah anak itu murni pemberian dari Allah. Tugas Ibu adalah menemukan dan menumbuhkan semua potensinya, serta memperkuat moral character sang anak karena character ini akan tertanam selama dalam hidupnya.

Dont teach me, I LOVE TO LEARN. Pesan Value di akhir ini mengirimkan pesan kepada saya untuk terus belajar karena ilmu pengetahuan itu akan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Teringat hadist Rasulullah : Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. So. Please. Dont Stop. Menjadi Ibu adalah proses belajar tanpa henti. Better than Never, agar suatu hari nanti peranan hidup kita sebagai seorang IBU menjadi bukti NYATA akan kasih sayang kepada anak tanpa batas.

Sebuah keinginan untuk menulis kupersembahkan untuk http://ibuprofesionalasia.blogspot.com/ dalam merayakan
#IbuProfesionalASIA dan #1stAnniversaryIPAsia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.