Jurnal Refleksi Fasilitator #7

Alhamdulillah di pekan ini berjalan lancar. Semakin kesini di REview diskusu NHW ini makin berkurang dan hampir selalu tidak ada pertanyaan yang masuk. Padahal di Materi awal dan diskusi NHW selalu ada.

Alhamdulillah di Materi 7 ini, makin menguatkan peserta untuk selalu mencari peran mereka di kehidupan dan memastikan minat dan paassion diri mereka dengan bantuan alat. Walau Alat ini tidka bisa dijadikan sebagai acuan tapi membantu kkita untuk lebih mengenal diri kita.

Bagaimana bisa menjadi dirinya sendiri ( Be Your Self ) tapi tidak mengetahui dirinya sendiri ( KNowing Yourself) ini dipembahasan di materi dan NHW 7. Mengetahui bahwa Berproduktifitas ini tidak selalu soal materi tapi lebih kekepuasan hidup atas aktivitas yang dilakukan memberi kebermanfaatan kepada banyak orang sesuai prinsip 4E.

Untuk Review NHW sering dikuatkan lagi tentang Kuadran 1 dan 2 dan ini menjadi lebih prioritas karena membuat bisa itu mudah tapi membuat suka adalah tantangan. Kenapa ? AGar cepat mencari peluang dan segera berproduktifitas sehingga tidak ada hal yang sia-sia dalam hidup kita.

Dan ini dia highlight di Pekan 7 ini

FOKUS pada KEKUATAN, SIASATI segala KELEMAHAN

Dan

Jalankan saja yang BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita ?

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi7

Jurnal Refleksi Fasilitator #6

Lagi-lagi di Jurnal ini saya telat, karena minggu lalu pas mau mengerjakan menjelang deadline malah ketiduran gegara ke Liburan, Maafkan saya lupa tanggung jawab ini, harusnya bisa diselesaikan ketika di Bandung tapi selama di Bandung penuh dengan aktivitas bersama keluarga,. Dan barulah saya mengerjakan barengan di JFR yang ke 7.

Alhamdulillah, di Materi yang ke 6 ini, saya mulai mengubah diskusi dengan banyaj colek serta menunggu penuh peserta yang online di jam diskusi supaya ikut aktif dan berkontribusi dalam diskusi. Tujuannya memuliakan diri sendiri serta memperbaiki adab dan menghargai waktu serta komitmen pada kesepakatan jam online. Alhamdulillah berjalan baik.

Materi ini sangat membantu peserta untuk mulai belajar memilih aktivitas yang ruytin dan dinamis serta membantu menentukan prioritas penting di dalam kandang waktu tersebut. Di NHW ini mulai lagi muncul semangat peserta untuk mengerjakan NHW tepat waktu beda dengan di NHW 5.Banyakj yang mengerjakan tepat waktu.. Tepuk tangan dengan kembalinya semangat mereka.

Menjelang di Review Diskusi NHW 6 ini saya memgajak diskusi untuk membantu poin plus dari TBO dan RBO

Time based organization:
➕ Kegiatan lebih terperinci (jelas)
➕ nyicil pekerjaan
➕ mempermudah pekerjaan berikutnya
➕kegiatan lebih terarah/terplot waktunya

➖Kalau tidak sesuai schedule yang ditentukan potensi stress
➖kurang fleksibel.
➖banyak terjadi pelanggaran bila tidak konsekuen

Result based organization:
➕Tidak mudah stress
➕fleksibel
➕penetapan target dipikir matang
➖Ada kemungkinan prioritas yang terlewatkan
➖lebih mudah menyepelekan shg besar kemungkinan target menumpuk pd batas waktu terakhir

Demikian lah JFR saya di sesi #6 ini

#6

Jurnal Fasilitator sesi 5

Alhamdulillah dapat menemani perjalanan para peserta matrikans hingga level 5. Banyak suka duka dialami setelah melewati materi level 1 – 5. Banyak peserta mulai tidak konsisten, rajin menemani dan menceklist peserta untuk menyemangati mereka. Dan di level ini, mulai memberikan kelonggaran bagi peserta matrikulasi. Karena saya pun turut menghargai semua proses yang diberikan, yang mereka tulis, yang mereka lalui dan tertuang dalam NHW – NHW peserta matrikulasi.

Dan di level 5 ini, persis sesuai perkiraan dan sesuai dengan bayangan saya apa yang mereka tanyakan di Level ini. Desain pembelajaran. Ini adalah hal menarik bagi peserta, memiliki rasa penasaran, tapi bingung bagaimana memulai untuk membuatnya. Lagi-lagi sikap saya sebagai Fasilitator selalu ingin menggali Intelectual Curiosity peserta. Jadi saya jarang menjelaskan sesuai kaidah arti dari tiap penjelasan. Saya ingin memulai apa persepsi mereka tentang hal tersebut. Maka tahap awal seperti yaitu saya mengucapkan *Selamat* karena darisanalah mereka mulai mempertanyakan dan tanda ini adalah hal positif bahwa mereka akan mulai mencari tahu apa itu Desain Pembelajaran. Bagaimana Desain yang sesuai dengan Gaya dan Gue Banget itu.

Highlight yang didapat yaitu
? Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan ?
? Bunda pada prinsipnya semua anak itu terlahir sebagai pembelajar sejati >
Namun mengapa masih ada yang belum muncul kesadaran belajar mandiri? >
Bisa jadi yang salah bukan sang anak, namun metode yg dipakai ortu untuk memandunya belajar > Yuk Kita sekarang Belajar cara Belajar
? Semua boleh kec yang tidak boleh.
? Yakin dan Jalani Proses
? Kita belajar sebagai orang dewasa yang memiliki kemampuan memahami diri kita, apa kebutuhannya, dan apa yang perlu dipelajari dan dilatih untuk menjadi diri kita yang lebih baik
? Terlebih kita adalah orang dewasa yang AKAN mendampingi anak-anak kita. Memastikan diri sebagai orang tua yang cepat belajar, tepat belajar, dan bertumbuh dengan benar, menjadi jauh lebih penting sekarang
? Tidak perlu sempurna, Pelan Tapi Pasti, tapi akan nampak Nanti

Jurnal Fasilitator ke 5. Penuh tantangan dan suka duka.. Tapi hal ini makin memotivasi bahwa proses itu begitu penting ?

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi5



Jurnal Fasilitator sesi #4

Alhamdulillah di NHW 4 baru kali ini, saya keteteran mengerjakan rekapan, deadline yang tak sempat dikerjakan, karena di hari tersebut saya sedang puncak lelahnya beraktivitas bersama keluarga, menjelang duedate saya tertidur lelap…
Merasa bersalah, saya pun tetap ingin menyelesaikan Jurnal saya sebagai Fasilitator di pekan 4 ini.

Di pekan ke 4 ini, jujur bagi saya FBE itu bukan bidang yang saya kuasai, karena sayapun masih berproses belajar, saya baru tahu sebagian besar dari Buku, sharing diskusi bersama teman yang menguasai FBE, dan belajar dari Ustad Harry Santosa. Takut salah menjawab, maka banyak di materi ke 4 saya mengulang kembali makna Fitrah anak, inner child, mendidik anak-anak dengan fitrahnya.

Banyak yang saya buat untuk dijadikan Highlight dan kunci pesan di NHW 4 ini, yaitu
Materi ini lebih membersamai & membangkitkan Fitrah2 anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembang, dan Rumah sbg pusat peradaban pertama.

Tugas Orangtua hanyalah menemani, memberi semangat, mensupport mereka, menunjukkan hal-hal yang baik, memfasilitasi. Lakukan dengan sabar, rileks, konsisten dan banyak-banyak bersyukur atas apa yang anak kita miliki

Kita sebagai orangtua dapat mengetahui passion anak dengan memberi banyak aktivitas disinilah kita amati dan nantinya akan mengetahui kecenderungan anak dimana.

Fitrah itu pun bisa tidak tumbuh dengan optimal, jika ada salah satu yang mencederai fitrahnya anak

NHW 4 ini mengajak teman-teman membantu menetapkan prioritas belajar salah satunya yaitu dengan membuat milestone kemudian mampu membreakdwon menjadi roadmap untuk diri sendiri dan keluarganya

Dan KM-KM yang ada di NHW itu KM-KM bukan untuk mengevaluasi apakah kita sudah TUNTAS atau BELUM TUNTAS melainkan petunjuk kita untuk mengevaluasinya sebagai perjalanan yang ON TRACK atau OFF TRACK

Jadi mulailah berpikir sesuatu yg luar biasa. Jangan takut utk bermimpi meraih hal yg besar.
Barangsiapa Bersungguh-sungguh2 di JalanNya, Pasti akan sampai tujuan
Yang penting proses membuatnya & menjalankannya dengan Kesungguhan
Masalah nanti dalam menjalankannya, serahkan pada Allah.
karena bisa jd ada lompatan-lompatan dari apa yg direncanakan
Taufiqullah (bertemunya kehendak Allah dengan Kehendak manusia).

Untuk Pekan ini, karena melihat di jam diskusi sudah banyak yang tidak banyak online, maka saya pun bersepakat dengan perangkat kelas untuk mengubah suasana jam disksui yang bisa memfasilitasi semua peserta matrikans, Alhamdulillah semua setujuk tapi jam tersebut hanya uji coba sepekan terlebih dahulu, JIka banyak online, maka akan diubah jam tersebut hingga akhir selesai Matrikulasi.
ALhamudlillah semua berjalan lancar dan terkendali.
Berikut saya lampirkan Jurnal saya di Sesi #4

Jurnal yang penuh hara huru di akhir deadline..

Semoga kedepannya makin bisa lebih baik lagi membersamai semua peserta. Amin

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi4

Jurnal Fasilitator #3

Alhamdulillah sudah memasuki pekan 3… Makin mendalam-makin mendalam, makin mendalam…. Itulah bahasa saya di Kelas Matrikulasi ini.. Banyak teman-teman merasa galau, baper, terbawa perasaan bagaimana bisa menulis surat cinta untuk suami.
Ada yang masih single juga bingung untuk menulis surat cinta, ada yang biasa kasih surat cinta kepada suami, ada yang belum pernah melakukannya..

Banyak respon cinta-cnta dimana, saya membacanya sampai dari terenyuh, tertawa, terpesona, terbaper, tersedih, semua itu menjadi satu, Tapi pembelajaran yang saya dapat, bahwa menulis surat cinta itu berat Dilan… #efek dilan.
Jadi ingat dulu juga di kelas Matrikulasi saya bagian ini , saya mendapat respon suami uang belanja…. hehehehehe

Semua respon itu adalah tanda cinta-cinta, Dan makin terbaper lagi ketika mereka membaca Review NHW 3, sudah awal pekan memasuki materi 3 “love is everywhere” tapi sekarang malah jadi baper lagi…

Banyak insight disini bagi teman-teman di kelas Matrikulasi.

Hal penting dlm menjalani hidup yaitu

Penguatan Diri
&
Penguatan Komunitas

Bersungguh2lah di ‘Dalam, Maka kamu akan keluar dgn Kesungguhan

Tidak ada hukum terbalik

Terus dan terus membaca tanda cinta yang Allah berikan pada diri kita dan berusaha memaksimalkannya dengan sungguh-sungguh

Lihat segalanya,. lebih dekat,.
Dan Kau,.. Akan Mengerti,.
Dan bisa menilai..
Lebih Bijaksana..

Itulah insight yang didapat pekan ini… Agar teman makin yakin dengan misi dan visi hidupnya..

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi3

Jurnal Refleksi Fasilitator Materi #2

Sungguh tak membayangkan akhirnya sudah bisa melewati pekan pertama dengan lanacar tetap saja butuh perbaikan di sana sini. Keinginan bonding pun masih dalam tujuan saya, sampai saya musti perlu hapal nama panggilan serta mengingat mana yang punya anak, siapa yang belum menikah, serta melihat biodata yang memiliki usia yang lebih dari 5 tahun. Saling kenal maka sayapun tergerak untuk empati dan merasa terhubung dengan mereka.

Untuk di Pekan ke dua ini, sudah mulai banyak bermunculan curhat, terutama cuhat bagaimana biar suami dapat ditanya kebahagiannya. sharing dengan peserta yang mengalami LDM, ada suami yang sudah mendukung istrinya ikut IIP ada suami yang mecintai apa adanya tanpa perlu memberi jawaban sang istri yang ingin tahu indikator sang suami. Lika liku kehidupan peserta bagi saya semua itu adalah pembelajaran berharga, momen berbagi yang tak pernah terulang.

Nah untuk pemberian materi, masih terus saya buat perpoin agar mengerti dan runut dalam menjelaskan. Semakin banyak diskusi, semakin banyak tahu gaya memfasil saya, Jadi semakin jarang ada yang bertanya, tapi saat forum diskusi langsung pada online dan on fire bertanya, sharing dan diskusi, Ini berkat dari The Power Of QUestion dan poin poin utama setiap materi menguatkan statement saya dalam berdiskusi.

Untuk NHW pekan ini makin melambat, kemarin ada 4 orang yang belum mengerjakan NHW, pekan ini bertambah 8 orang yang belum mengerjakan. Tapi dari yang belum mengerjakan banyak sekali yang memwapri saya untuk terus melanjutkan NHW walau telat. Jadi saya tunggu NHW dan merekapnya.

Korming dan perlas sungguh makin banyak membantu dalam peranan saya, misalnya meramaikan tugas di sesi menyapa pagi hari, pendampingan pengerjaan NHW. Dan ini pekan ini membuka aturan di GFOS jam malam, untuk sejam. Tujuannya mengingatkan teman-teman bahwa besok sudah memasuki Deadline NHW.
Inilah peringkasan Jurnal Refleksi saya

Jurnal fasilitator #2

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi2

Jurnal Fasilitator Matrikulasi Pekan 1

Hari itu dimulai kelas Matrikulasi Batch 7. Banyak sekali keinginan terlintas di benak saya, saya mau ini, saya mau itu. Persiapan dimulai dari hati, bahwa itu sudah diniatkan, ingin sekali menjadi Fasilitator untuk dapat membersamai peserta agar mereka pun dapat menemukan misi peradaban mereka masing-masing.

Saya tahu saya masih belajar, banyak sekali pembelajaran selama training, terutama dalam pembelajaran The Power Of Question menentukan saya untuk menjadi Fasilitator seperti apa nanti. Saya ingin belajar banyak juga disini bersama peserta.

Dari persiapan memasuki kelas, saya pun dapat pengumuman terpilih, alhamdulillah, dan saling menghubungi walas untuk segera bersinergi. Ketika hari itu, saya dan walas pun langsung membuat perencanaan masuk dan walas meminta saya juga membuat kejutan untuk mereka. Wah sebuah tantangan berat, tapi saya pun ingin menjadikan suatu motivasi agar membuat bonding kami semakin erat.

Dari pemikiran tersebut sayapun terlintas membuat ice breaking dengan quiz bertema Yuk Menemukan Namamu, ketika sudah menemukan namamu langsung katakan disini. Masalahnya adalah saya harus membuat puzzle. Sulit? Tidak saya mengerjakan di pagi hari sebelum mulai perkenalan, padahal sebelumnya saya masih dalam perjalanan mudik dari Yogyakarta ke Tangerang. Sempat menunda Tugas NHW Fasilitator terakhir. Di sela-sela itu juga dalam perjalanan, saya banyak membaca dan mereview kembali materi-materi Matrikulasi dan poin-poin setiap materi. Saya membuat tujuan dari setiap Materi itu sendiri, apa yang ingin dicapai untuk para peserta Matrikulasi.

Dan tibalah di hari dimulainya Hari pertama memasuki Kelas Matrikulasi.Saya mulai dari penyambutan mereka. Sungguh tidak menyangka bahwa saya menerima banyak hadian dari mereka. Apa itu hadiahnya ?

Hadiah mereka untuk saya, Saya kompilasi kan aliran rasa mereka.
Ada 6 aliran rasa yang dihadiahkan untuk saya satu berupa video. Untuk video cukup sulit diupload. Tapi disini saya sangat terharu sekali dengan semua ini. Saya belum memulai tapi hadiah yang mereka sungguh banyak dan bermakna. Surutkah? Tidak malah makin membuat saya bersemangat untuk memulai kelas.

Mereka punya kejutan tentu sayapun juga punya. Ini dia kejutan ala ice breaking dari saya.

Menantang buat mereka sekaligus mencairkan suasana kelas. Langsung ramai, dan saya minta ini dikumpulkan sekalian saya ingin belajar dalam Google Classroom. Sekali dua pulau terlampaui. Belajar simulasi nilai, dan memberikan feedback. Tapi Feedback ini jujur loh dari saya.

Setelah itu dimulailah kelas Materi Martrikulasi di hari pertama di hari selasa. Saya udah membuat poin-poin dari Materi Adab Menuntut Ilmu, yaitu

  1. Kita udah sering dengar kalau ilmu adalah prasyarat untuk amal dan merupakan pembuka pintu ilmu dari semua
  2. Adab itu kaitannya dengan akhlak. Akhlak itu ditularkan melalui perilaku suri teladan
  3. Bertujuan untuk mengajak kita semua agar memperbaiki akhlak terhadap ilmu sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya.

Setelah memberikan materi serta melihat pencapaian dari Tujuan Materi ini, alhamdulillah langsung lanjut memberikan NHW. Sayapun membuat poin utama dalam tujuan dari NHW ini, yaitu

  1. Menemukan jati diri
  2. Menemukan Ilmu yang sesuai passion
  3. Menemukan Strong Why dari ilmu yang dipilih
  4. Merancang strategi untuk memperdalam ilmu yang dipilih serta membuat perencanaan ke depan
  5. Membantu menemukan proses belajar mereka untuk menemukan tujuannya masing-masing

Itulah poin-poin utama yang saya inginkan dari para peserta matrikulasi. Apakah berhasil? Prosesnya cukup mudah dengan bantuan The Power Question serta pelampung dan donat dari kelas Matrikulasi. Sayapun membuat Jurnal Fasilitator

Ini saya buat jurnal berdasarkan PDCA di Materi 1. Sungguh membantu untuk membuat langkah selanjutnya dalam memberikan materi berikutnya.

Dan tak lupa saya juga memberikan momen refleksi untuk teman teman ketika mendapat cemilan. Saya kembali memberikan pertanyaan untuk mendapatkan refleksi setelah diberinnya materi 1. Ini dia refleksi mereka.

Ye
Setelah menerima refleksi mereka saya berencana akan mengajak kembali mereka untuk memberikan feedback di materi selanjutnya dalam rangka mendapatkan tindakan evaluasi untuk jurnal saya.

Alhamdulillah berharap jurnal fasilitator 5 hari ini berjalan sesuai rencana walau belum dikatakan berhasil. Saya harus lanjutkan kembali tugas, tentunya dengan memberikan semangat serta Booster yang terbaik untuk mereka. Semua prinsip dari IP ini selalu diingatkan yaitu Semua Guru Semua Murid, semua boleh kecuali yang tidak boleh (Dikaitkan dengan CoC, Semua adalah proses, dan Ibu Profesional adalah Ibu Pembelajar yang membuat masalah menjadi Tantangan.


#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesike1

Back To Routine

Sebenarnya, dari kemari waktu kita menginap di rumah bu mertua. Kakak sudah sakit, demam. Kita ajak anak kesana agar suasananya nyaman dan itu keinginan kakak.

Dan setelah jumat kemarin ke dokter untuk ke dokter dan cek darah karrna sudah 5 hari demam, maka kami cek darah dan hasilnya infeksi virus dan trombosit turun. Kalau terus turun ini adalah DB tapi kata dokter, kakak mau makan? Kaka bilang mau. Dokter pun berucap sudah tidak apa-apa bu, kaka akan cepat sembuh InsyaAllah turun panasnya besok. Makan dan minum yang banyak. Itu pesannya.

Alhamdulillah, berkat pesan dokter, kakak lamgsung minta makan siang dan makan malam pun dengan cepat. Esoknya panas kakak tidak naik lagi. Stabil suhunya.

Akhirnya pula bisa kembali beristirahat di rumah. Setelah kemarin menginap di rumah utinya. Di rumah, kakakpun kembali ceria dan mulai melakukan kembali hal yang disukai ?.

Saya melihat kakak senang sekali dengan pensil warnamya untuk membuat beragam goresan. Apakah itu fitrahnya? Belum tentu tapi kami siap selalu untuk membantu kakak menemukan perannya dalam peradaban

Sekali membuat goresan sudah dapat 2-3 kertas penuh dengan gambar imajinasinya.

Saya biasanya membuat portofolio hasil goresan tangan kaka. Dari awal hanya bisa membuat garis lurus kemudian lingkaran dan sekarang hasilnya dapat melanjutkan beragam macam bentuk goresan warna penuh cerita. ?

Kasih Ibu Tak Pernah Pudar

Apakah kalian pernah mendengar lagu ini?

Lagu yang selalu dinyanyikan ibunda kita.

Lagu yang memang diciptakan untuk anak-anak.

Lagu abadi sepanjang masa.

Coba mari kita senandungkan lagu tersebut bersama-sama.

Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Lagu terkenal dan penuh makna dengan curahan hati dan kasih sayang ibu sepanjang masa, sepanjang tahun, sepanjang hari. Tidak pernah pudar dilekang oleh waktu. Kasih Ibu ini selalu diberikan kepada anandanya tanpa pernah meminta ataupun membalas dari sang ananda. Kasih Ibu layaknya Sinar mentari di sepanjang hari tanpa henti menyinari bumi. Begitulah kasih sayang seorang Ibu tak pernah pudar.

Ketika menulis ini, menulis dengan tema “Ibu Profesional Nurturing Family” mengacu pada lagu ini. Ya, Ibu. Mengingat jasa seorang Ibu, mengingat juga Ibunda saya sendiri. Sosok Ibunda mengajarkan saya kembali bahwa Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Perjuangan Ibu mengandung selama 9 bulan membawa kehidupan baru, belum lagi teringat akan perjuangan proses melahirkan. Begitu dekatnya dengan sang Illahi, mengorbankan dari jiwa ruh sang ibu sendiri. Proses yang begitu takjub dan indah yang tidak akan pernah bisa dilupakan dan kemudian dilanjutkan dengan menyusui. Proses ini membuat Ibu tidak dapat mengurus dirinya sendiri, karena tiap menit, tiap jam bayi menangis karena lapar, haus, dan mengantuk mengharuskan Ibu senantiasa untuk menggendong dan meninabobokan bayi kembali. Belum lagi proses menyusui, momen akan kedekatan intim dengan bayi, mencium bau harum bayi akan ASI, kemudian adaptasi siklus tidur dengan jam-jam malam menyusui, luka dan perih akan menyusui. Sungguh perjuangan Ibu itu tak pernah akan ada obat gantinya. Ibu, bagi saya memberikan saya kesempatan tiada duanya untuk terus melakukan yang terbaik dan berbakti kepadanya.

Bagaimana caranya menjadi Ibu seutuhnya seperti Ibunda saya dan berhasil menyimpan di dalam memory anak sehingga semua ladang ilmu yang kita berikan tak terputus? Itu misi awal saya belajar berperan menjadi seorang Ibu yang bersungguh-sungguh didalamnya. Apakah hal ini mudah? In Your Dream, itu kata teman saya. ITU TIDAKLAH MUDAH. Ternyata saat saya mulai berproses menjalaninya sungguh banyak tantangan yang hampir membuat saya terhenti. Saya pun menyadari bahwa untuk menjadi Ibu yan hebat hingga menghasilkan anak yang hebat, sayapun harus melebur dan menyelam lebih dalam lagi sehingga nantinya siap menerima kondisi tantangan untuk menjadi Ibu Profesional yang seutuhnya.

Saya pun bertemu Komunitas Ibu Profesional yang memberikan saya kuncinya. Kunci yang akan membuka jalan saya untuk menjadi Ibu kebanggaan keluarga. Ibu yang disayang oleh anak dan suami, Ibu yang dapat membuat anak-anak dan suamipun bangga akan KITA. Saya pun teringat kembali dalam suatu kelas Matrikulasi. Sesosok Ibu yang mengalami disorientasi informasi akan peranan Ibu yang sesungguhnya. Dari sana membuka insight baru yang awal penuh dengan tangisan menerima diri saya seutuhnya, belajar cinta diri sendiri, dan bersyukur dengan segala potrensi yang kita punya, sampai akhirnya rona bahagia terpancar dalam diri saya. Saya mampu menyusun visi dan misi keluarga, yang membuat suami bangga dan anak-anak pun bahagia ketika saya membersamai mereka.

Ibu Profesional, membuat saya mengambil langkah maju tanpa henti untuk beristirahat. Teringat Value Ibu Profesional salah satunya yaitu Never stopped running, THE MISSION ALIVE. Saya menyadari bahwa saya sebagai seorang Ibu dan Istri ingin terus belajar, meraih misi dengan suka cita yang dapat sejalan dengan passion saya. Saya berani mengambil keputusan terpenting dalam hidup saya bahwa ini adalah untuk kemaslahatan keluarga dan lingkungan di sekitar saya. But wait….
tunggu sebentar… Saya pun berpikir ketika menerima banyak informasi baru tergabung saat itu, saya pun layaknya karang diterjang ombak tanpa henti, Jika terus seperti itu, sayapun kan hancur lebur sebelum saya memilah-milah tsunami informasi. Coba ganti peran. Coba menjadi Masinis Kereta Api tanpa henti yang hanya berhenti ketika sampai tujuan, tidakkah kita seharusnya merasakan indahnya menikmati pemandangan dan suasananya dalam menjalani suatu prosesnya. Betul saya terus maju, tapi adakalanya berjalan pelan lambat maju ke depan dengan pasti supaya dapat berjalan beriringan bersama keluarga yang kita cintai, sehingga apa yang ingin kita capai pun akan dapat dilakukan selebrasi kegembiraannya bersama-sama.

Layaknya perjalanan dalam kereta ini adalah sebuah proses menyelesaikan misi, pasti akan ada banyak kisah yang ditemui ketika kereta dapat terhenti di tiap stasiun. Just feeling it, diam dan tenang untuk resapi semua perjalanan tersebut. Tajamkan indera dan kepekaan untuk mendengar semua cerita ilmu yang bersumber untuk memulai Adab menuntut ILMU yang baik, tajamkan indera dan kepekaan untuk melihat sukacita bagaimana diri ini menjalani proses dan solusi untuk menghadapi tantangan di depan dalam keluargaku, tajamkanlah indera dan kepekaan untuk membiasakan diri berkata hal-hal yang produktif demi keberhasilan mencapai proses misi kehidupan. Yang pasti sayapun tahu dan menyadari bahwa setiap langkah perjalanan itu dibuat akan memiliki arti dan makna dalam kehidupan saya sendiri.

Dari belajar menikmati prosesnya, Ibu profesional pun memberikan arti bagi saya bahwa pembelajaran Ibupun sama tak lekang oleh waktu, tak pernah pudar, layaknya kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Teringat hal ini pun membuat saya berpikir bahwa anak yang diberikan oleh Illahi merupakan suatu amanah juga memilki fitrahnya dan misinya dalam peran kehidupan ini. Teringat kembali lagi suatu prosa Kahlil Gibran,

Anakmu itu bukan milikmu,

Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.

Lewat kau mereka lahir, tapi bukan dari engkau.

Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.

Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.

Kasih sayang ibu tak pernah ada batasnya, tapi jangan pernah kita memaksakan keinginan kepada anak demi tercapainya proses misi keluarga. Dari Ibu Profesional pun saya belajar bahwa fitrah anak itu murni pemberian dari Allah. Tugas Ibu adalah menemukan dan menumbuhkan semua potensinya, serta memperkuat moral character sang anak karena character ini akan tertanam selama dalam hidupnya.

Dont teach me, I LOVE TO LEARN. Pesan Value di akhir ini mengirimkan pesan kepada saya untuk terus belajar karena ilmu pengetahuan itu akan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Teringat hadist Rasulullah : Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. So. Please. Dont Stop. Menjadi Ibu adalah proses belajar tanpa henti. Better than Never, agar suatu hari nanti peranan hidup kita sebagai seorang IBU menjadi bukti NYATA akan kasih sayang kepada anak tanpa batas.

Sebuah keinginan untuk menulis kupersembahkan untuk http://ibuprofesionalasia.blogspot.com/ dalam merayakan
#IbuProfesionalASIA dan #1stAnniversaryIPAsia

Bermain di Rumah Uti

Dari hari Rabu, kami menginap di rumah uti. Disini anak-anak request senang sekali, terutama si kakak. Kakak kangen utinya dan memang kondisinya masih kurang fit, untuk mengajak bermain aktivitas seperti biasa di rumah kemarin dengan Montessori, anak-anak lagi tidak ternormalized.. huhuhu.. So, memang jadwalnya hari ini outing, karena kakak sakit jadi tidak bisa eksplorasi Yogya kamipun outing ke rumah uti.

Karena kakak sedang tidak fit, sedangkan adik tetap semangat. Alhamdulillah semangat untuk bermain dan beraktifitas sederhana dengan membawa buku gambar pun disenangi oleh anak-anak. Dan ini saat adalah ajakan breakfast. Saya dan suami memang membiasakan anak untuk belajar mandiri sejak kecil, apalagi soal makan. Walau awalnya prosesnya sungguh luar biasa, tapi hasilnya amat memuaskan. Dari awalnya makan sendiri lihat nasi di bawah meja sungguh buat hati menangis tapi saya sadar ini proses kemandirian, biarkan anak makan sendiri darisanalah anak akan belajar dengan sendirinya.

Selalu pas jadwal makan, sayapun berusaha bertanya kebutuhan kakak dan adik, apakah mereka berdua sudah lapar? Karena ini di rumah uti, memang wajib makan di atas kursi dan makan di ruang makan bersama. Anak-anak pun memang senang menggemari duduk di atas kursi makan. Mereka pun berproses ambil makan sendiri, walau untuk adik Ibu selalu bantu mengambil nasinya. Setelah itu pun meereka duduk di kursi masing-masing dengan nikmatnya makan siang. Alhamdulillah.. Untuk kakak, walau sakit tetap mau berusaha makan walau sedikit.

Semangat Kakak, sehat ya…
Alhamdulillah, laper ya dek?

Tapi tahu tidak teman-teman, walau kakak sakit, tapi nyatanya tetap meminta untuk cuci piring sendiri. Yup dari Montessori inilah juga kakak makin inisiatif belajar untuk self skill di rumah. Salah satunya yaitu mencuci piring, dan ini meringankan tugas ibu lohh… Salah satu fitrah anak belajar dan adab, kakak pun disini mnerima tanggung jawab mencuci piring dengan hati senang.